Cinta Aisha

burton_pretty_bed.gif
Aku pernah di muka bumi Indonesia ini. Menghirup polusi dan sumpeknya macet Jakarta. Tapi darah Indonesia-ku membuatku berucap, “wahai…elok nian tanah ini…”. Terlalu naif berkata bila sengaja aku ke Indonesia untuk mencari cinta. Bodoh, kataku. Cinta itu hanyalah milik-Nya, sisanya adalah sampah. Katakanlah wahai kyalayak, aku ke sini untuk bekerja, lillahita’ala.

Saat itu aku bertemu dengannya, melalui cara yang cukup unik, kalau tak boleh dibilang bodoh. Seseorang yang biasa saja, bahkan temanku ada yang mengatakan jelek. Duhai, tak ada aku akan melihat seseorang dari ketempanan yang hanya sebatas kulit itu. Parasku cantik, subhanallah, aku memiliki segalanya, harta, kedudukan, bahkan royal blood. Tapi orang ini, tak satupun dia melebihiku. Tapi keapaadaannya membuatku kagum, pengetahuannya tentang satu-satunya agama yang diterima Allah mampu menuntunku. Seperti Sulaiman tanpa istana-nya, aku adalah Bilqis yang sempurna.

Perlahan aku menjadi khilaf, tak seharusnya aku mencinta bukan karena-Nya. Dia tak halal bagiku, aku tak halal baginya. Perasaan ini haram dan aku harus menjaga integritas imanku, seperti aku menjaga integritas perusahaan yang aku pimpin. Ya Allah, berikanlah aku petunjuk menjalani hidup ini, seperti Engkau memberikan petunjukmu untuk istri-istri baginda Rasul. Aku mencintai-Mu melebihi apapun.

Ibuku telah tiada. Tapi ajaran beliau terhadapku dan keluargaku sangat berkah, ajaran yang tidak sembarang orang mendapatkannya, ialah hidayah-Mu ya Rabb. Dengan segala kesungguhan hati akan kujaga, insya Allah sampai Izrail mendatangiku. Ayahku seorang petinggi, dipandang banyak orang, perkataanya bisa berpengaruh terhadap kesejahteraan khalayak pekerjanya. Alhamdulillah beliau juga seorang muslim. Kakakku kurang lebih sama sepertiku, seorang apprentice, yang suatu saat dapat menggantikan kedudukan Ayahku.

Hidayah-Mu ya Allah, tidak semudah yang aku kira. Ujian demi ujian kulalui. Di saat aku belajar membaca firman-Mu dalam sebuah kitab bernama Al Quran dengan terbata-bata, di saat orang lain memandangku remeh karena itu, di saat aku dengan susah payah mengartikan satu demi satu arti dari kata-kata indah dalam Quran di malam-malam ku, di saat itu aku menangis. Bukan karena ejekan mereka ya Allah, tapi karena betapa suci, betapa indah, betapa benar-nya ajaran-Mu. Tangis ini tak cukup untuk menyelesaikan bacaan ayat-ayat-Mu ya Allah. Tiap hari kurindukan mendalami agama ini. Agama ini sungguh apa adanya akan tetapi sangat mendetil. Agama ini universal tetapi sangat spesifik. Agama ini indah namun sangat tegas.

Semakin aku mencintai Islam, semakin aku dihantui ketakutan. Ketakutan akan orang-orang yang berbagi darah denganku akan marah. Menganggapku pengkhianat. Seperti anggapan Bahadur terhadap Noura. Aku bersembunyi dalam ketakutanku, mereka mencari. Aku berpura-pura, mereka mencoba membuka kepura-puraanku. Aku berlari, mereka mengejarku. Aku percaya kekuatan Allah melebihi apapun yang ada di jagat semesta, termasuk mereka. Aku berlari…berlari…dan terus berlari. Luka di kaki akibat pecahan botol ketika menghindari kejaran mereka tak kuacuhkan, selama aku bisa memegang Islam ini. Aku seperti berada di zaman Jahiliyah, beribadah sembunyi-sembunyi, didera, dikejar, disiksa dan dikucilkan. Allahuakbar…Allahuakbar..Allahuakbar. Hanya itu yang terngiang di kepala saat ini. Pergilah aku menuju tempat yang aman, negara Islam yang mampu melindungiku, aku dilindungi oleh seorang teman dari kejaran mereka. Seperti Hijrah Rasulullah dan sahabat ke Medina. Ya Allah, sungguh suatu ujian yang berat yang kualami.

Kembali aku pada mereka dengan berpura-pura tidak mengenal Islam. Berharap mereka berhenti mengejar. Setelah semua terlihat seperti baik-baik saja, kembali Engkau mengujiku wahai pemilik alam semesta. Satu-satunya orang tuaku yang tersisa, Engkau panggil menghadap-Mu. Berjuta sedih kurasakan. Sisa air mata kucoba untuk keluarkan. Segala doa kupanjatkan, tentu saja dengan sembunyi-sembunyi. Aku telah lemah ya Allah, aku mungkin tak sanggup lagi. Satu pertanyaanku pada-Mu, “Mengapa?”. Tak selesai kubur Ayahku ditutup mereka sudah membicarakan wasiat. Subhanallah…Subhanallah…Subhanallah. Di sela-sela kesedihan kuterima khabar ayah tercinta meninggal dalam Islam.

Mengapa kau panggil Ayahku sehari sebelum aku memutuskan untuk menjauhi dirinya. Seseorang yang aku khilaf menyebutkan cinta padanya. Seseorang yang juga khilaf menyebutkan cinta padaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Hanya kepada-Mu lah aku mengadu. Alhamdulillah. Keteguhan imanku pada ajaran-Mu memberikan aku sinar dalam gelapku. Seperti air sejuk di tengah padang pasir yang bahkan Rasulullah pun menyebutkannya pada suatu doanya. “Ya Allah, buatlah cintaku pada-Mu melebihi cintaku pada istri, harta, dan segelas air dingin”. Semua ini adalah jalan-Mu untuk membuatku kuat. Ya Allah, cintaku padamu melebihi segalanya, Insya Allah. Jika Engkau ridho, dekatkanlah aku padanya. Aku ingin halal bagi seorang muslim sejati.

Namaku? Namaku Aisha. Insya Allah aku mampu menjaga kesucian nama istri baginda Rasul itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s