Ayat Ayat Cinta

ayat-ayat-cinta.jpg

Category:    Books
Genre:     Religion & Spirituality
Author:    Habiburrahman El Shirazy

Sudah selesai membaca novel ini sebulan yang lalu. Memang betul cerita kebanyakan orang yang telah membacanya, novel ini membuat saya paling tidak sekali menitikkan air mata.

Poin penting dari novel ini adalah bagaimana Habiburrahman El Shirazy memberikan contoh-contoh prilaku seorang moslem sejati dalam berbagai aspek kehidupan. Terlebih lagi hubungan kasih sayang terhadap sesama manusia, bukan hanya sesama moslem. Membaca novel ini sungguh memberikan kesejukan bagi ruh dan raga yang belakangan ini memang sangat-sangat saya butuhkan.

Terus terang, tidak sedikit orang yang berubah perilakunya setelah membaca novel ini, tidak terkecuali saya. Memang melalui novel, seorang pengarang bisa dengan mudah memasuki dunia kekinian dan memberikan doktrin Islam yang indah tanpa harus merendahkan, tanpa harus melecehkan dan tanpa harus memanipulasi.

Kisah yang ada pada novel ini agaknya sedikit mirip dengan kehidupan seseorang yang saya kenal, seseorang yang saya cintai. Ah sudahlah. Semua cinta adalah semu sebelum dimulai dengan niat dalam suatu majelis walimah.

Nilai empat bintang untuk cerita, sisipan hadis maupun ayat suci Al Quran, karakter yang kuat, serta bahasa yang komunikatif. Satu-satunya kekurangan yang saya dapati adalah seringnya saya menemukan kesalahan penulisan tanda baca dan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang baku.

8 comments

  1. wah, perd, tampaknya kita mesti berdebat panjang ttg betapa gak sukanya gw sama novel ini, hahaha. Apa lagi filmnya!Sungguh merendahkan cewe2.

  2. Emang bagus novelnya apalagi filmnya lebih terasa. Untuk gitzgitz yg comment, merendahkan wanita gimana maksud loe? Itu sudah d karang sedemikian indah oleh pengarangnya. Ngarang kmu.

  3. merendahkan? hmmm…baca kembali dalam keadaan ikhlas git!

  4. aswb….
    wahhhhhhhhhhhhhhhhh
    maksud kamu g bagus d mananya sih???????
    coba lo baca lagi dengan perasaan yang mendalam lo pasti ngerti di mana letak terbagusnya buku ini….
    coba lo baca dri awal sampai akhir dech…..
    hemmmmmmmm……………
    KEREN ABIZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ

  5. merendahkan wanita yang mana gitz? lo belom baca kale gitz……. baca dulu deh….di novel tersebut wanita lebih di hormati, dan begitulah seharusnya adab seorang laki2 ke seorang wanita…. (sampai menyentuh n memandang secara berlebihan aja, takut dosa)mungkin kamu lebih suka wanita yang berpakaian mini n semua cowok melotot memandang dengan penuh nafsu yang buntut buntutnta terjadi zina / pelecehan sexual ya gitz?

  6. ih kok semua pada nyerang Gitzgitz sih, setiap orang kan boleh punya pendapat sendiri, Kalau aku sih sedikit setuju dengan Gitzgitz, sedikit aja lo, menurutku ceritanya ga sedramatis novelnya Hamka “Tenggelamnya kapal Van Der Wijk” (maaf kalo tulisannya salah), kayak biografinya si fahri aja, cuma novel itu memberikan pencerahan dan inspirasi untuk menjadi seorang muslim sejati, itu yang bikin istimewa selain itu si pengarang juga berbagi pendapat tentang isu-isu sosial yang terjadi, jadi menambah pengetahuan kita deh.
    Satu lagi pendapatku, menurutku film-e welek, melenceng dari novele, di film karakter si Fahri kok jadi mlempem, ga bijak blas

  7. weiiiiiiii, ternyata koment “iseng” saya jadi rame di sini. Maaph, saya “terbiasa” ngomong ngaco sama perdi, saya pikir gak dibaca sama yang laen, hehehe. Yang “merendahkan” film, ya, bukan novel. Please, di-italic-in. Maaf, jelas, ya kalo tuh film, ngangkat “budaya” Islam. Tapi, liat dong saat si Nurul “gak” dapetin Fahri, atau si nora” gak dapetin fahri. Semuanya gak bisa nerima kenyataan (digambarinnya). Nurul bahkan “kehilangan cahaya” hidupnya. halow, ada di mana sabar dan ihklas. Sementara,yang saya tau, Allah sudah menjanjikan “seseorang laki-laki yang baik, untuk perempuan baik-baik, meski ia bersembunyi di sebuah kamar tertutup,” am I right? JAdi, mengapa perempuan2 berjilbab rapi yang tentunya sudah mempunyai pendidikan agama “cukup” ini desperate sekali saat fahri nikah sama Aesyah? Lagi-lagi, di mana sabar dan ihklas?
    Adegan nurul yang ngebuka jilbab dan nagis di kmaar. Oke, dia di kamar sendiri. Tapi ya itu, seolah2 dia sudah kehabisan sabar karena ternyata gak bisa dapetin fahri, helooow.

    Yah, namanya juga karya sastra, multiinterpretasi-lah. boleh kan beda pendapat, kita di negara demokrasi bukan?
    LAgi, saya tetep salut untuk 3 juta penonton yang menonton koq.

    okey, begitu saja. Ana Assifah, sungguh hanya berpendapat pada perdi saja tadinya.
    Salam– Fiammanillah.

  8. Oh iya untuk Arexz, merendahkannya di bagian mereka “putus asa” sekali berebutan Fahri. Menurut saya itu snagat merendahkan harga diri “iman”nya mereka. Dan, Fahri yang di film sering berdua2an kok sama Maria (di adegan2 awal) juga saling bertatapan (di tepi sungai Nil), begitu deh, maaf yah, merusak idolanya antum2. hehehe. Ana Assifah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s