Kisah Si Individualis Mistis

Seorang Ferdy F. Rahman akhirnya memutuskan untuk terjun bebas ke titik zenith dan terbang kembali naik ke titik nadir. Azimuth diantara keduanya tidak begitu jelas, terlihat samar karena selisih paralaks. Kesombongan dalam keramah-tamahan yang remeh. Inilah cerita yang mutlak terlihat determinatif, pemaksaan terhadap suatu kekuatan yang maha. Marilah kita lihat dari retina mata seorang yang hina.

Adalah seorang individualis yang agak mistis ditemani mesra oleh seorang apatis logis yang kritis. Keduanya tak terbantahkan memiliki kanvas mimpi yang masih mentah. Bahkan ukuran kanvas itu sendiri belom jelas, karena belum terpotong rapi. Tapi, apakah memang harus terpotong rapi? Apakah kanvas itu sendiri perlu dan memiliki hak untuk dikotori oleh cat minyak kalian yang bau dan kotor? Bagaimana kalau dibiarkan saja dirinya suci seperti itu. Kalian memang serakah.

Tersebutlah mereka melukis dengan pensil seadanya, tak bau, tak berasa, tapi berwarna. Seorang anak SMP yang telah melewati UN sudah dengan jelas dapat mengatakan bahwa hasil coretan sepotong karbon yang dilapisi elemen bernama kayu itu dengan mudah dapat dihapus. Jadilah lukisan itu sendiri dengan segala ketidakmampuan yang berdaya.

Si apatis logis yang kritis merasa telah sia-sia upaya mereka untuk melukis, apalagi untuk mencoba menjualnya. “Jualan ini tak akan laku,” begitu katanya dengan pongah. Logikanya bermain dibumbui apatis yang renyah. Dia tidak ingin lagi melukis bersama sang individualis yang mistis. “Otak ku yang tinggal setengah ini tidak cukup lagi diinjeksi dengan permasalahan remeh harus menjual lukisan ini.” Kalimat itulah yang menjadi kalimat terakhir pemisah kedua orang cacat ini.

Si individualis yang mistis, karena percaya pohon-pohon besar masih akan mampu memberikan kemujuran padanya, kembali berdoa ke pepohonan besar, membawa sesajian. Tak puas, dirinya pergi ke kuburan tak bernisan, berdoa, komat-kamit, tapi kali ini menu sesajiannya berbeda. Kali ini dia membawa udang rebus dan sambal gurih. Dia berpikir si penunggu kuburan lebih menyukai menu sea food daripada dedaunan sesajian. Pun tak menghasilkan apa-apa. Si individualis yang mistis akhirnya berjalan tanpa arah. Berpapasan dengannya seraut muka yang tampak ia kenal, seorang yang telah lama mengisi secuil kehidupannya. Si wajah yang cukup ia kenal itu mengajaknya mampir ke rumahnya di tepi kompleks bangunan yang luas.

Singkat cerita, si individualis, dengan memang tak memiliki apa-apa untuk dilakukan lagi, berpikir apa salahnya mampir, siapa tau dia tertarik membeli lukisan yang selalu ia bawa itu. Hehehe…tidak, si laki-laki yang cukup ia kenal ini tak tertarik sedikitpun dengan lukisannya. Tapi ia tertarik dengan pakaian si individualis. “Saya suka corak warnanya, dan kecompang-campingannya.” Begitu katanya kepada si individualis yang mistis ini. Mengetahui bahwa baju itu adalah satu-satunya baju yang ia punya, dengan lantang dia berkata tidak, dengan air liur sedikit muncrat mengenai muka lawan obrolannya itu.

Si pria tertawa terbahak-bahak dan mengatakan dia tidak menginginkan sama sekali baju si individualis itu. “Saya hanya ingin membantu menjahit baju kamu itu. Sini saya jahit dulu.”

Si individualis tahu betul orang itu bukanlah tukang jahit, tapi tukang bangunan. Jari-jarinya yang tebal dan keras tak mungkin bisa menghasilkan jahitan yang sempurna tanpa cela.

Istimewa sekali, si pria menghasilkan jahitan sempurna, jarak antar jahitan sempurna dengan skala yang konstan. Tipe jahitan disesuaikan dengan tipe compang-camping yang ada. Seperti kunci dan anak kunci. Warna benang jahit juga disesuaikan dengan corak warna pakaian. Semua pas.

Telah selesai menjahit si laki-laki langsung melempar baju jahitannya ke pria individualis. Dia langsung mengusir si individualis yang mistis pergi dari rumahnya, dan berkata

“Sana pergi! Bajumu telah layak dipakai. Buang lukisan jelek itu. Pergi dan buka usaha penginapan yang bisa menginapkan orang tanpa bayar dan tanpa pergi lagi. Buatlah sebuah kamar penginapan yang tidak terlalu besar tapi cukup sempit, tetapkan harganya murah, tempat tidur cukup untuk satu orang saja, jangan kau bikin muat sampai empat orang, toilet-nya biarkan kotor seperti kebiasaanmu, selimutnya biarkan bau sebau bau badanmu. Tidak perlu kau pasang pemanas di kamar itu, karena kau sendiri yang harus memanaskannya dengan hawa mulutmu yang bau rokok itu. Siapa tahu ada orang semenjana apatis logis yang kritis ingin tinggal di penginapanmu. Berdoa dan berusaha saja. Oh iya, jangan lupakan angka 777.”

Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s